PAHAMI!! Jangan Ada Caci, Apalagi Maki, Jika Kau Tak Bisa Memberi



Di dunia ini, ada orang yang makan di restoran terkenal. Menghabiskan ratusan bahkaan jutaan untuk sekali makan. Padahal yang dimakan hanya satu-dua sendok, sisanya terbuang–sia-sia, manusia.

Tapi di sisi lain, ada orang yang sudah berhari-hari tidak makan. Jangankan sesuap  nasi, sebutir pun tak ia dapati. Ia meminta-minta  tapi tak diberi. Ia kais tong sampah,  tapi tak ada, hanya bungkusan kosong yang sudah dilalati. Lalu  salahkah jika akhirnya ia mencuri? Salah. Tetap salah.

Di dunia ini, ada banyak orang yang bangun kesiangan, langsung menuju ruang makan, semua yang dia inginkan sudah tersedia, beberapa pelayan siap mengabulkan keinginannya. Apapun.

Tapi disisi lain, ada orang diluar sana yang tidak bisa bangun pagi ini. Sudah seminggu ia tak makan, tak minum, tubuhnya hanya tulang yang dibungkus kulit keriput.

Dan miris, lalu lalang manusia melihat pemandangan itu, tapi tak membantu, walau sebutir recehan. Mereka jijik. Pemandangan itu sungguh menjijikkan. Lantas, salahkah jika orang-orang kurang beruntung ini memasrahkan dirinya di rel kereta api? Menunggu kereta lewat agar hancur saja tubuh dan diri yang tak berguna itu. Apa salah? Salah. Tetap salah.

Di dunia ini, ada banyak orang yang menghabiskan hari-harinya di rumah mewah, siang ke mall megah, makan malam di restoran bintang lima, tidur di hotel kelas atas negara lain. Naik pesawat paling mahal, menghamburkan uang di diskotik, membeli baju setroli yang pada akhirnya tak terpakai. Banyak. Manusia seperti itu banyak.

Tapi disisi lain, ada  orang yang menghabiskan hari-harinya di jalanan tak beratap, siang menjambret, malam dipukuli karena setoran tak mencapai target. Tidur di trotoar, belum lima menit, diusur satpol pp, lalu menekuk kedinginan didepan rumah orang kaya yang tak sudi membukakan pagar untuk memberinya tempat berteduh saat hujan yang begitu deras! Ada. Kisah ini ada. Nyata.

Di dunia ini, anak-anak orang kaya bersekolah di sekolah elit yang biaya SPP-nya seharga rumah mewah dua lantai. Diantar supir kemana-mana. Gonta-ganti mobil tiap bulan. Jalan-jalan keluar negeri tiap liburan.

Tapi masih di dunia yang sama, anak-anak tak berorangtua lalu lalang di jalanan, meminta recehan sambil memelas. Tak punya hak untuk sekolah. Dimaki-maki orang orang kaya baru dari dalam mobil yang entah dibeli dengan cara apa.

Dibentak-bentak, diusir karena menghalangi jalan atau mengotori mobil mewah mereka. Apa salah mereka jika mereka kumal? Salah mereka jika mereka hanya punya satu baju yang harus dilempar kotoran setiap hari oleh bos penyiksa anak jalanan yang tak berhati?

Apakah itu kesalahan mereka jika harus meminta receh dibawah terik matahari, bermandikan hujan, dengan tubuh kumal penuh kurap?

Dan andai saja, sebagian dunia yang berbahagia itu sudi melihat, apa yang berada di balik selembar baju kumuh itu, bukan, bukan hanya tulang yang dibalut daging.

Tapi memar-memar beraneka ragam warna. Merah, hasil pecutan bos tadi malam. Biru, hasil pecutan kemarin siang, dan daging-daging timbul untuk darah yang membeku atas benturan untuk sebuah perjuangan makan sekali sehari.

Anak-anak itu, berjuang, untuk uang yang akan dirampas orang lain. Tidak hanya separo, tapi semuanya. Keringatnya, pagi, siang, malam meminta-minta, terkuras sudah, tapi hasilnya untuk orang lain yang mengabdikan dirinya sebagai orang baik. Citranya baik dimata dunia.

Andai, andai saja setiap orang mau membuka hati, tidak hanya mata. Lihat, jauh, jauh kedalam, bukan hanya kulit luar yang dipenuhi kebohongan.

Lihatlah, anak-anak jalanan itu, tersenyum lebar mendapati recehan  disimpannya dalam galian tanah untuk membeli kembang api. Apa mereka bahagia?

Iya, bahagia. Karena kebahagiaan, bagi mereka hanyalah sebuah kembang api yang indah memberi terang seperti kembang dilangit malam nan kelam.

Begitu juga arti sebuah kepedulian.

Bagi orang-orang yang tak berorang tua, yang kumuh, yang meminta-minta, kepedulian dari orang-orang sekitar adalah kembang api yang membuat mereka tersenyum, merasa lega, bahwa di dunia mereka yang kejam, masih ada cahaya yang sudi masuk. Masih ada kembang api yang sudi memberi warna.

Maka berhentilah memaki-maki. Jika mereka punya pilihan, mereka akan memilih hidup di rumah mewah, tidur di kasur empuk, makan 4 sehat 5 sempurna.

Sayangnya, hidup ini sendiri adalah pilihan yang dibalut takdir. Tak bisa mereka lari, apalagi sembunyi.

Dan setidaknya, mereka selalu jauuh lebih baik daripada orang-orang yang memilih menyayat nadi diri sendiri.

Mereka berani menghadapi jalan hidup yang sepi, penuh caci maki, setiap hari. Jadi, berhentilah menghakimi orang lain. Jika kau tak bisa memberi, urus saja urusanmu sendiri, jangan ada caci, apalagi maki.




(Sumber: ayobuka.com)

Halaman Berikutnya: