Berapa Lamakah Hari Kiamat Itu? Ini Jawabannya

Berapa Lamakah Hari Kiamat Itu? Ini Jawabannya

Sahabat, di hari kiamat nanti, kita akan sampai pada momen dimana segala perbuatan kita akan dihisab. Dihisab dari amal terbesar yang kita lakukan, hingga amal terkecil yang sekecil biji sawi. Bayangkan.! Semua manusia dari umat Nabi Adam ‘alaihissalam hingga umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak akan ada yang terlewat di hari perhitungan. Lantas berapa lama kah waktu yang berjalan untuk menghisab hingga manusia terakhir?

Berapa Lamakah Hari Kiamat Itu? Ini Jawabannya

Ibnu Abi Hatim menyatakan, “Kami mendengar dari Ahmad bin Sinan Al Wasithi, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, mengenai hari yang kadarnya 50.000 tahun. Ibnu Abbas mengatakan, ‘Itu adalah hari kiamat.’ (Sanad periwayatan hadits ini shahih).

Ibnu Abid Dunya berkata, “Kami mendengar dari Muhammad bin Idris, dari Al Hasan bin Rafi’, dari Dhamrah, dari Syaudzab, dari Zaid Ar Rusyd, dia berkata, ‘Pada hari kiamat manusia berdiri selama 1.000 tahun, sedang pengadilan di antara mereka dilaksanakan dalam ukuran waktu 10.000 tahun.’

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa dia berkata, “Hari kiamat itu dijadikan Allah
bagi orang-orang kafir terasa selama 50.000 tahun.”
Berkata Al Kalabi dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas, bahwa dia berkata, “Andaikan penghitungan amal manusia (hisab) itu dilakukan oleh selain Allah, niscaya tidak akan selesai dalam waktu 50.000 tahun.”

Al Baihaqi mengatakan, bahwa Al Hasan berkata, “Dapatkah kamu bayangkan suatu hari, dimana manusia berdiri selama 50.000 tahun tanpa makan sesuap dan tanpa minuman seteguk, sehingga leher mereka terpotong-potong karena kehausan, dan perut mereka terbakar karena kelaparan. Sesudah itu mereka dibawa ke neraka, dimana mereka kemudian diberi minum dari sumber air panas, yang benar-benar sangat panas dan benar-benar matang?”


Waktu kita sekarang berada di dunia nggak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan waktu di hari pengadilan maupun di akhirat kelak. Maka nggak heran bila Rasulullah SAW mengibaratkan dunia seperti sebelah sayap seekor nyamuk. Jadi, nggak ada gunanya hidup hanya mengejar dunia tanpa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat yang lebih lama dan lebih kekal. Semoga kita menjadi golongan orang yang mendapat naungan dari Allah ta’ala di hari kiamat nanti dan hisab yang kita alami bisa berakhir pada kenikmatan surga. So, yuk, semangat memperbanyak amal kebaikan.



Sumber : pelangismuslim.com

Halaman Berikutnya: